Pemeliharaan Masyarakat Anti-Kritik

Internet seperti sebuah koin dengan dua wajah yang membawa pengaruh berlawanan. Satu wajah membawa hal positif dan wajah lain membawa hal negatif. Namun, wajah negatif koin ini sering muncul keluar sebagai pemenang dalam lemparannya. Seperti pengaruh berita hoax atau kasus perpeloncoan hingga pembunuhan di dunia maya yang netizen saksikan dewasa ini. Mesin pencari Google seolah berhasil membaca pikiran kita ketika ingin mengetik beberapa huruf yang … Continue reading Pemeliharaan Masyarakat Anti-Kritik

In The Penal Colony: Adaptasi Sastra Ke Film

Sinema sebagai media baru menjadi popular di ranah perkembangan budaya naratif. Perkembengan sinema sebagai salah satu media naratif tak lepas dari pengaruh bentuk seni lain, khususnya sastra. Hingga hari ini, begitu banyak ditemukan produksi film yang diadaptasi dari karya sastra.

Pada umumnya, orang-orang yang telah membaca karya sastra dan menonton film yang diadaptasi dari karya sastra tersebut, beranggapan kedua karya seni ini berbeda. Bahkan mereka mencemooh film adaptasi yang tidak berhasil memuaskan spektatornya seperti karya sastra yang berhasil memuaskan pembacanya.

Hal ini terjadi karena kedua bentuk seni ini mempunyai bahasa spesifik yang berbeda. Karya sastra menggunakan bahasa ‘kata’ untuk membawa dan menyampaikan ide atau pesan, sedangkan sinema menggunakan bahasa visual atau gambar untuk mengangkut dan menyampaikan ide atau pesan. Atau dalam bahasa George Bluestone, seorang pelopor studi film adaptasi; “. . .faktanya novel adalah medium linguistik, film esensinya adalah visual” (1957:1). Ini membuat sinema, khususnya sebuah adaptasi mempunyai bentuk seni tersendiri. Seperti argumen Bela Balaz; adaptasi adalah sebuah karya independen, karya sumber barangkali hanya sebatas stimulus, maka lebih kurang adaptasi bisa dikatakan sebagai karya original (1970:259).

Salah satu film adaptasi yang mudah diakses melalui youtube.com adalah In The Penal Colony yang berdurasi 40 menit, disutradarai oleh Forrest Rice pada tahun produksi 2013. Berjudul sama, In The Penal Colony adalah cerpen yang ditulis oleh Frans Kafka yang dipublis pada 1919, kemudian cerpen ini banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Salah satunya dalam bahasa Inggris diterjemahkan oleh Ian Johnston pada 2003.

In The Penal Colony Continue reading “In The Penal Colony: Adaptasi Sastra Ke Film”

Sinema Sumatera Barat Dalam Layar Terkembang: Film Week

Kehadiran program Layar Terkembang: Film Week dalam memperingati Hari Film Nasional tahun ini bukan hanya mengisi kekosongan semesta sinema di Padang, Sumatera Barat. Tetapi bisa memperlihatkan kecenderungan sinema di Sumatera Barat khususnya, yang terdeteksi mempunyai tendensi sendiri dibandingkan film-film dari daerah lainnya. Dari 24 film yang diputar dalam rangkaian acara Layar Terkembang: Film Week, 22 sampai 30 Maret 2017 lalu, terdapat 5 film yang diproduksi … Continue reading Sinema Sumatera Barat Dalam Layar Terkembang: Film Week

Padang Pesta Film

Memperingati Hari Film Nasional yang jatuh setiap 30 Maret, Layar Terkembang hadir dengan tajuk Film Week. Menghadirkan 24 film yang diputar di berbagai tempat di kota Padang, yang kemudian bisa menjadi sebuah ruang bagi penikmat dan pegiat film menemukan film-film nasional atau menjadi referensi melihat perkembangan film di Indonesia hari ini. Pengambilan gambar pertama Darah dan Doa (Long March of Siliwangi) pada tahun 1950 yang … Continue reading Padang Pesta Film

Turah dan Absensi Keberpihakan

Tidak bisa dilepaskan keberpihakan sebuah film, apapun jenis filmnya, maupun negatif-positif keberpihakan tersebut atau bentuk keberpihakannya yang pada umumnya bersifat propaganda. Secara tersirat maupun tersurat. Dengan keistimewaan sebuah karya audio-visual yang kuat untuk mempengaruhi penonton, tentu tidak akan disia-siakan. Namun dalam film Turah (2016), terdapat  absensi keberpihakan dalam ranah sinematografinya yang secara otomatis juga tidak membuat ilusi keberpihakan pada subjek. Layar Terkembang 9 Maret 2017 … Continue reading Turah dan Absensi Keberpihakan

Komunitas Film dan Ruang Apresiasi Alternatif

Terjadinya demonstrasi oleh penggiat  di Korea Selatan 2015 lalu, sampai-sampai menutup bioskop-bioskop komersil, bahkan para demonstran melempar ular ke dalamnya. Karena dianggap menjadikan Hollywood sebagai anak emas, senantiasa memberikan ruang seluas-luasnya pada keluaran Hollywood. Cacatan di atas akan berlaku pula bila penggiat filem di Sumatera Barat mampu memproduksi filem secara konsisten. Dengan kualitas yang bisa menyaingi filem luar lewat segi konten, konsep maupun konteks. Minimal … Continue reading Komunitas Film dan Ruang Apresiasi Alternatif