Jika kita bertemu dengan acara yang serupa (dalam ranah bioskop alternatif) dengan Layar Terkembang ini, sebut saja Layar Kampus di Universitas Negeri Padang (UNP) atau Bioskop Taman di Bukittinggi, pasti acara tersebut akan tidak memungut biaya pemutaran atau apapun.  Namun kali ini, program pemutaran reguler dari Relair Cinema yang akan memutarkan film Turah (2016) ini memungut biaya dengan menggunakan kata “donasi.”

Halnya pemutaran film #Pacahparuik Taburai 2 (2016) di Taman Budaya Padang 15 Oktober 2016 lalu yang juga memungut biaya, namun menggunakan kata umum yaitu tiket atau biasanya menggunakan frasa Harga Tiket Masuk (HTM). Bahkan membagi 3 macam tiket, yakni, 50K untuk reguler, 70K untuk VIP, dan 90K untuk On The Spot (OTS), artinya reguler dan VIP adalah harga pemesanan sebelum acara. Terlihat mirip dengan sistem tiket yang ada pada bioskop komersil, bahkan pemutaran ini melampaui bioskop komersil.

Tetapi berbeda dengan program pemutaran dan apresiasi Layar Terkembang, film Pras Teguh ini jelas berkincah dalam wilayah komersil sedangkan Layar Terkembang memutaran film-film akar rumput atau non bioskop yang bertujuan mengapresiasi pembuat film serta filmnya, mendukung perfilman lokal, dan edukasi penonton. Yang biasanya setelah pemutaran akan ada diskusi-diskusi.

Juga dengan Layar Terkembang pada 9 Maret 2017 ini, setelah memutarkan film Turah yang berdurasi 82 menit di ruang seminar Gedung I Universitas Andalas (Unand), akan ada diskusi yang menyediakan pembicara atau pengkritik film, yaitu, Dra. Yunarti M.Hum, seorang dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unand dan Muhaimin Nurrizqy seorang mahasiswa Sastra Indonesia Unand yang juga pegiat film di Relair Cinema.

Poster acara 2

Arti kata donasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah (1) sokongan tetap (berupa uang) dari donator kepada perkumpulan, (2) pemberian, hadiah (2008: 362). Dalam konteks ruang alternatif perfilman berarti kegiatan ini bersifat saling tolong-menolong, saling memberi dengan dasar kemurahan hati, menyokong para pegiat film akar rumput kita untuk terus berproduksi dan menghasilkan film berkualitas. Pula dalam Layar Terkembang kali ini yang mencantumkan “Donasi 20K.” 20K yang berarti Rp. 20.000 ini tidak lain adalah bentuk saling sokong-menyokong wadah apresiasi serta pembuat film sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk menghasilkan sebuah film atau film pendek sekalipun pasti akan membutuhkan biaya yang cukup besar, bersifat materil maupun tidak. Jelas 20K perorang ini jauh dari kata mengganti biaya produksi sebuah film, apalagi film Turah yang akan diputar oleh Layar Terkembang nanti. Misalkan saja terdapat 100 penonton yang akan datang dan berdonasi, berarti akan terkumpul sekitar 2 juta. Jumlah ini tidak akan sampai untuk mengganti biaya produksi. Belum lagi bentuk persenan untuk menumbok biaya teknis apresiasi dengan pihak produksi.

Kita sandingkan dengan sistem tiket pada pemutaran bioskop komersil maupun #Pacahparuik tadi, yang berarti bentuk pembayaran ini adalah tukar-menukar barang, uang ditukar dengan hiburan, dan pihak penghibur pasti berkeinginan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Kalau bisa dapat melebihi biaya produksi.

Poster acara

Sesungguhnya sistem donasi ini sudah membumi di ranah perfilman di pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Di Sulawesi terdapat Cinema Apresiator Makasar dengan program pemutarannya Weekend Kino, pada 12 Februari 2017 lalu memutar film Rel Air dan Kubu Terakhir (kedua film ini berasal dari Sumatera Barat) dengan donasi 15K, lalu pada 26 Februari lalu memutarkan film On The Origin Of Fear, Saudara Dalam Sejarah, Tarung, Tida Lupa, Ingatan Sunyi dengan donasi 20K. Di pulau jawa juga sungguh banyak, diantaranya; Kineforum pada 1-5 Maret 2017 ini memutarkan berbagai film dengan donasi 20K di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di Surabaya ada Komunitas Penonton Duatiga Project pada 5 Maret ini memutarkan Balik Jakarta, Mesin Tanah, #Akuserius dengan donasi 15K, dan lainnya.

Begitu masifnya kegiatan apresiasi film hari ini dan bukan hanya sekedar menonton dan mengapresiasi, tetapi dengan bentuk donasi ini, apresiasi telah terjadi peningkatan. Dimana penonton diajak untuk mendukung perfilman akar rumput kita supaya makin meningkat dan bisa bersaing lebih banyak di kancah internasional. Dan juga, tentunya mendukung wadah apresiasi sendiri, yang mana kehadiran ruang inilah yang menjadi distributor film-film tersebut sampai ke mata para penonton tanah air.

Turah sendiri menyuguhkan kisah kerasnya persaingan hidup yang menyisakan orang-orang kalah di kampung Tirang. Para warga terjangkit perasaan takut dan pesimisme. Terutama pada juragan Darso yang memberi kehidupan kepada warga Tirang ini. Pakel, sarjana penjilat di lingkaran Darso, dengan pintar membuat warga kampung makin bermental kerdil. Situasi tersebut memudahkannya untuk terus menggeruk keuntungan. Setitik optimisme dan harapan untuk lepas dari kehidupan tanpa daya hadir pada diri Turah dan Jadag. Peristiwa-peristiwa terjadi, mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan. Ini adalah usaha sekuat tenaga mereka, orang-orang kampung Tirang, agar mereka tidak lagi menjadi manusia kalah, manusia sia-sia.

Produksi dari Fourcolour Films yang sebelumnya cukup sukses dengan film Siti (2015) arahan Edi Cahyono, Turah sendiri telah mendapat berbagai penghargaan, diantaranya; Asian Feature Film Special Mention di 27th Singapore International Film Festival 2016, Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016. Terakhir diputar di 9th Bengaluru International Film Festival 2017, India.

Tepat agaknya Turah ini dipilih oleh Layar Terkembang sebagai film pertama dalam upaya menaikkan iklim apresiasi film di Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya, 4 Layar Terkembang yang telah terlaksana tidak memberlakukan biaya apapun, bahkan menyuguhkan penonton makanan ringan dan minuman untuk mendukung kenyamanan menonton film. Namun, kali ini Layar Terkembang bersama Turah, mencoba menerobos rasa “pesimisme”, narasi yang penuh “kelicikan” agar “tidak kalah” dan “sia-sia”.

Advertisements