Terjadinya demonstrasi oleh penggiat  di Korea Selatan 2015 lalu, sampai-sampai menutup bioskop-bioskop komersil, bahkan para demonstran melempar ular ke dalamnya. Karena dianggap menjadikan Hollywood sebagai anak emas, senantiasa memberikan ruang seluas-luasnya pada keluaran Hollywood.

15034880_348386638870154_8792344752709173248_n
Sesudah pemutaran Layar Terkembang

Cacatan di atas akan berlaku pula bila penggiat filem di Sumatera Barat mampu memproduksi filem secara konsisten. Dengan kualitas yang bisa menyaingi filem luar lewat segi konten, konsep maupun konteks. Minimal para penggiat filem kita mampu menyuguhkan dengan maksimal salah satu dari pembacaan filem itu.

Benar. Beberapa tanda kasih pada kebangkitan perfileman Sumatera Barat oleh para akademisi Istitut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang lewat beberapa filemnya. Benar. Kualitasnya bisa disanding dengan filem-filem luar Sumatera Barat walaupun hanya dari salah satu segi pembacaan. Tetapi apa sumbangsih lainnya? Dalam segi menstimulus para penggiat filem diluar ISI Padang Panjang? Atau, dengan sumber pengetahuan yang telah terwadahi, apakah ISI Padang Panjang sudah melahirkan tokoh perfilman muda?

Produksi filem oleh pelajar di Sumatera Barat bisa dikatakan lebih produktif dari tingkat di atasnya. Dibuktikan pada Festival Filem tingkat pelajar SMA/SMK sederajat yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Fotografi dan Filem (UKFF) Universitas Negeri Padang (UNP) bulan November 2016 lalu, jumlah filem yang diterima oleh panita terhitung sebanyak 34 filem dari seluruh SMA sederajat yang ada di Sumatera Barat.

Filem-filem sebanyak ini dikirim oleh pelaku filem tingkat pelajar. Lalu dilombakan, hingga mempunyai beberapa nominasi. Salah satunya filem produksi SMKN 4 Padang berjudul Sahabat dan Cinta dianugrah sebagai Filem Favorit. Yang juga berhasil mendapat penghargaan pada Apresiasi Filem Indonesia (AFI) 2016 sebagai Filem Favorit.

Terdapat juga produksi-produksi filem yang mulai konsisten oleh komunitas filem tingkat universitas non seni. Seperti teluran Relair Cinema (salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Andalas) yang acap kali menjajah festival-festival filem di pulau Jawa dengan filemnya. Filem dokumenter pertama mereka Rel Air mendapat penghargaan Filem Dokumenter Terbaik pada acara Bandung Independen Filem Festival (BIFF) 2016, bahkan di Brazil mendapat Official Seletion di acara Amazon Filem Festival. Pula UKM kampus non seni lain yang memproduksi filem, seperti Sinematografi Unand, dan UKFF UNP.

Belum menghitung komunitas-komunitas filem independen di Padang, Sumatera Barat. Seperti Sinemama, Komunitas Filtograph, Strongkeang, Cangkeh Production, dan Sarimata Cinema Culture. Juga Padang Panjang, mempunyai Saruweh, dan Solok mempunyai Gubuak Kopi.

Kesadaran akan produktifitas seniman filem di Sumatera Barat mulai meningkat, tidak mungkin filem tersebut akan hanya tertinggal di dalam harddisk atau laptop mereka. Tentu diperlukan ruang-ruang apresiasi untuk filem tersebut. Mengingat bioskop adalah salah satu ruang apresiasi yang patut, nyaman dan tentram untuk menonton filem. Dan bioskop komersil pun lebih memusatkan perhatian pada tingkat penjualan tiket yang berangkat dari selera pasar (pastinya hal ini lebih mengacu pada filem populer seperti keluaran Hollywood).

Selain, seluk-beluk industri yang perlu dibongkar oleh penggiat filem ‘akar rumput’ ini. Selera masyarakat pasti juga perlu diperhitungkan, untuk mendapatkan tempat di kancah bioskop komersil. Tantangan yang paling jelas adalah bagaimana menggeser filem-filem keluaran Hollywood dengan filem lokal.

Kesadaran ini menimbulkan sebuah program yang lebih berpihak pada masyarakat dan budidaya sinema. Berupa pemindahan bioskop tertutup menjadi bioskop terbuka. Memindahakan bioskop ke tengah-tengah masyarakat dan sama sekali tidak memungut biaya. Lebih dikenal sebagai layar tancap. Sebuah kegiatan yang telah ada sejak kekuasan Jepang.

Layar tancap yang pernah ada dulu, dihadirkan kembali dengan bingkisan kekinian. Serta capaian-capaian yang tentunya bukan bersifat propaganda kekuasaan politik, namun lebih menitik beratkan pada budidaya sinema.

Sesungguhnya kegiatan ini telah terlaksana secara konsisten oleh pelaku filem di wilayah pulau Jawa beberapa tahun belakangan.

Filem yang diputarkan pastinya filem-filem kelas ‘akar rumput’ yang mencoba menggeser pakem selera filem masyarakat.

Setelah beberapa tahun ini, program pemutaran di tengah masyarakat ini telah membuahkan hasil yang cukup signifikan. Pertama, pengetahuan masyarakat akan perfileman bukan lagi berkutat pada televisi atau bioskop komersil. Masyarakat mendapat akses mudah untuk mendapatkan hiburan bahkan edukasi dari media filem. Dan pula, meningkatnya kualitas filem-filem yang diproduksi.

Alhasil, filem-filem ‘akar rumput’ ini bukan lagi bioskop komersil di indonesia yang menjadi sasaran ruang apresiasi (bioskop sentris). Malahan, bioskop komersil yang akan meminta filem ‘akar rumput’ ini untuk diputarkan di bioskopnya.

Seperti karya Wregas Bhanuteja memenangkan kategori filem pendek terbaik di La Semaine De La Critique 2016, salah satu festival filem independen terpenting yang diselenggarakan bersamaan dengan Festival Cannes setiap tahunnya. Siti (2014) karya Edi Cahyono dan Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen mendapat pengalaman yang sama. Bahkan Istirahatlah Kata-Kata yang mengangkat kehidupan seorang penyair dan aktivis indonesia, Wiji Thukul mendapat anugrah Filem Terbaik Non Bioskop oleh Apresiasi Filem Indonesia (AFI) 2016 lalu. Sebuah penghargaan yang cukup aneh.

Ruang-ruang alternatif ini juga telah muncul di Sumatera Barat, kota Padang maupun di Solok. Dengan nama komunitas Gubuak Kopi, perkumpulan yang berkecimpung dalam beberapa cabang seni. Salah satunya filem, dengan program Sinema Pojok, mengadakan pemutaran filem dan diskusi setiap minggunya di tengah-tengah masyarakat Kapubaten Solok.

Di Padang. Bertajuk Layar Kampus, program pemutaran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Rupa UNP. Layar kampus yang telah 3 bulan berjalan ini, terakhir diadakan pada kamis 8 Desember lalu di Teater Tertutup Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). Pemutaran serta diskusi filem Kubu Terakhir karya Benny Sumarna (salah satu pendiri Sarimata Cinema Culture).

Juga ikut mengiringi program di atas dari Relair Cinema, dengan program Layar Terkembang. Pada 29 November 2016 lalu, pula memutarkan 6 filem yaitu Sahabat dan Cinta, Opor-Operan, Mengejar Dangdut, Astronot, Bibi Siti Switi, dan Ucup Sayang Bapak. Dan pada 22 Desember 2016 lalu Layar Terkembang kembali hadir dengan memutarkan filem-filem bertema ibu yaitu Nunggu Teka, Rindu, Mulih, Sebentar Lagi Aku Pulang, dan spesial pemutaran kembali Rel Air. 9 Februari 2017 lalu juga memutarkan 5  yang berasal dari 5 daerah di Indonesia yaitu, Kepunen, Sugih, Jurig, Sepatu Baru, dan Palasik.

Sarimata Cinema Culture, berfokus pada edukasi dan budidaya sinema di Padang. Terakhir Sarimata ini terlihat menyelenggarakan pemutaran filem di cafe Hardcore Mayhem Padang 19 November 2016 lalu. Filem yang diputar berjudul Tropicalia diakhiri dengan diskusi setelah pemutaran.

Tropicalia, filem asal Brasil ini menarasikan bagaimana seni tidak berhenti pada pengertian media hiburan semata, tapi mampu menjadi sebuah gerakan rakyat yang menggugat kemapanan sebuah kekuasaan para elit dengan cara yang etis dan estetis.

(Tulisan ini pernah dimuat di koran Singgalang, 26 Feb 2017, dengan judul Ruang Apresiasi Alternatif Komunitas Film)

Advertisements