Tidak bisa dilepaskan keberpihakan sebuah film, apapun jenis filmnya, maupun negatif-positif keberpihakan tersebut atau bentuk keberpihakannya yang pada umumnya bersifat propaganda. Secara tersirat maupun tersurat. Dengan keistimewaan sebuah karya audio-visual yang kuat untuk mempengaruhi penonton, tentu tidak akan disia-siakan. Namun dalam film Turah (2016), terdapat  absensi keberpihakan dalam ranah sinematografinya yang secara otomatis juga tidak membuat ilusi keberpihakan pada subjek.

Layar Terkembang 9 Maret 2017 lalu adalah sebuah program ruang apresiasi alternatif yang diusung oleh Relair Cinema (salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) yang sudah terlaksana beberapa bulan ini. Sedikit berbeda kali ini dari film yang telah diputar, sebelumnya memutarkan film-film pendek yang diproduksi oleh pembuat film independen atau mahasiswa dari seluruh Indonesia, kali ini memutarkan Turah berdurasi 82 menit. Yang sama adalah sama-sama pembuat film independen, bernama Fourcolour Films, rumah produksi yang berbasis di Yogyakarta. Juga ditambah diskusi setelah pemutaran dengan pembicara Dra. Yunarti M.Hum, dosen Antropologi Fakultas Sosial dan Politik, serta Muhaimin, mahasiswa Sastra Indonesia FIB yang juga pegiat film.

Poster acara 2

Disutradarai Wisnu Wicaksono Legowo, Turah sebelumnya telah mendapat beberapa penghargaan nasional maupun internasional. Diantaranya: Asian Feature Film Special Mention di 27th Singapore International Film Festival 2016, Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016. Dan hadir di Padang, Sumatera Barat, mencoba memberi warna baru dalam ranah perfilman kita.

Film ini membawa kita ke kehidupan masyarakat di sebuah tanah timbul di Tegal, Jawa Tengah. Kampung Tirang adalah nama kampung di film ini yang dihuni oleh belasan keluarga miskin. Diayomi oleh seorang juragan bernama Darso (Yono Daryono) dan Pakel (Rudi Iteng) seorang sarjana yang menjadi tangan kanan sang juragan. Namun pengayoman ini ditentang oleh Jadag (Slamet Ambari) sebagai sebuah ilusi kemakmuran semata, dimana yang sesungguhnya terjadi adalah pemerasan tenaga kerja, bahkan mencurigai Pakel sebagai biang keladinya. Turah (Ubaidillah) dihasut Jadag untuk sepemikiran dengan dia. Tetapi, setelah berbagai usaha dilakukan untuk menghoyak pesismisme masyarakat kampung Tirang, kekalahan menjadi bayaran untuk usaha mereka.

Meskipun film ini berjudul Turah dimana juga nama dari salah satu tokoh pada film ini, ternyata polemik-polemik besar dalam film ini dilakoni oleh tokoh Jadag. Seperti perkataan Yunarti dalam diskusi setelah pemutaran kemarin, bahwa kata Turah sendiri berarti kalah, sebuah kata yang mewakili keseluruhan film ini.

Turah sendiri yang sebelumnya menjalani “ilusi kemakmuran” itu berhasil dihasut oleh logika-logika Jadag. Usaha yang dilakukannya untuk tidak menjadi “orang kalah” pun berupa meminta kenaikan upah kepada Darso dan diterima oleh sang juragan. Namun bukan begitu yang dimaksud Jadag sendiri, yang lebih mengarah pada “pemberontakan.” Hal ini langsung diutarakan oleh Jadag kepada Turah selepas turah meminta kenaikan gaji tersebut: “Kamu sedang belajar jadi penjilat?”

“Kekalahan” pada Jadag secara jelas dilihatkan ketika dia ditinggalkan istri dan anaknya, serta kematian dia yang dibunuh oleh komplotan Pakel. Setelah Jadag mencoba memberi penerangan pada warga lain, yang menjadi salah satu penggerak alur cerita film ini.

image description
Pembicara Muhaimin, Moderator Mahareta Iqbal, Pembicara Yunarti

Kekalahan terbesar pun dilakoni oleh Turah sendiri yang meninggalkan Kampung Tirang tersebut bersama istrinya setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang diperbuat Pakel. Namun, itu juga pilihan antara hidup dan mati oleh Turah, dimana pada adegan Turah mendapati Jadag ditangani oleh anak buah Pakel, tiba-tiba dia dikalungi celurit dari belakang. Tetapi, pilihannya untuk tetap melanjutkan hidup inilah yang memperlihatkan respon pesismisnya terhadap kekacauan yang ada disekitarnya. Dengan kata lain, lebih baik menghindari masalah daripada menghadapinya.

Absensi Keberpihakan

Bahasa sinema adalah bahasa visual, berarti cerita mesti digambarkan bukan diceritakan. Salah satu pendukung kuat pesan dalam gambar adalah teknik sinematografinya, berupa mise en scene atau angle atau posisi kamera sendiri. Pengaruh sinematografi pada cerita secara otomatis juga berpengaruh pada keberpihakannya. Secara sekilas, dalam Turah keberpihakan secara produk seni budaya terpisah dengan keberpihakan dalam kerangka sinematografinya.

Seperti paparan Muhaimin dalam diskusi setelah pemutaran lalu, dalam Turah kamera tidak berpihak pada tokoh manapun. Dalam artian, seperti Jadag sekalipun yang berperan sebagai tokoh pemberontak dengan pikiran-pikiran kritis atau ketika Jadag mabuk-mabukan atau ketika Jadag sedang berkelahi, kamera tidak sekalipun memakai angle yang membuat ilusi bingkaian yang merekam subjek semakin kuat. Konsep high angle misalnya, biasanya digunakan untuk mempertegas ilusi ketertindasan subjek dalam tangkapan kamera, dan juga low angle pula mendukung ilusi keperkasaan subjek. Angle yang sering digunakan dalam Turah ini adalah eye level dimana memunculkan ilusi subjek sejajar dengan penontonnya.

Perbandingan pun diberikan oleh Muhaimin, seperti film-film Hollywood yang sudah pasti memakai sinematografi tersebut. Dalam cerita yang sama-sama memberontak; Hunger Games, Maze Runner, Divergent, dan lainya. Namun, kesimpulan Muhaimin tidak didukung elaborasi contohnya dengan pemakaian angle, meskipun ada, hanya secara umum.

image description

Kerap penonton akan terbawa berpihak pada subjek karena angle yang digunakan mendukung ilusi-ilusi tangkapan kamera tersebut. Salah satunya pada adegan-adegan ketika subjek akan melakukan sesuatu yang besar atau berarti, pasti terdapat pengambilan gambar memakai low angle, membuat tampilan sang subjek menjadi lebih perkasa, sama halnya dengan konsep ketika kita melihat orang yang lebih tinggi—posisi—dari kita. Pula ketika subjek terluka atau sengsara, sering menggunakan high angle dimana mempertegas ilusi kesengsaraan tersebut sehingga semakin kuat pula menguggah simpati penonton, pula sama dengan konsep ketika kita melihat orang yang lebih rendah—posisi—dari kita. Alhasil menimbulkan sebuah keberpihakan.

Absensi keberpihakan pada tokoh-tokoh dalam Turah ini dilihat sebagai sebuah bahasa sinema adalah realitas dalam film ini memang “sejajar” dengan mata kita. Artinya kemiskinan, pesimisme, dan ketertindasan itu dekat dengan kita. Dan apakah kita akan memilih sebagai Jadag yang menghadapi kekacauan disekitarnya? Atau seperti Turah? Didukung dengan penutup film ini ketika bingkai kamera terjatuh atau kamera yang sedang merekam terjatuh. Menjadi sebuah sentilan bahwa ini hanya realita sinema, hadapi realita anda!

(Dimuat di koran Singgalang pada 19 Maret 2017, berjudul Layar Terkembang:Turah dan Absensi Keberpihakan.)

Advertisements