Memperingati Hari Film Nasional yang jatuh setiap 30 Maret, Layar Terkembang hadir dengan tajuk Film Week. Menghadirkan 24 film yang diputar di berbagai tempat di kota Padang, yang kemudian bisa menjadi sebuah ruang bagi penikmat dan pegiat film menemukan film-film nasional atau menjadi referensi melihat perkembangan film di Indonesia hari ini.

Pengambilan gambar pertama Darah dan Doa (Long March of Siliwangi) pada tahun 1950 yang disutradai Usmar Ismail, sineas yang berasal dari Sumatera Barat, ditetapkan oleh Dewan Film Nasional dan beberapa komunitas film pada 1962 menjadi Hari Film Nasional. Kemudian, dirayakanlah setiap tahunnya dengan berbagai macam agenda oleh institusi, komunitas, dan pegiat film.

Di tahun ini di Padang, Sumatera Barat terdapat Layar Terkembang : Film Week. Sebelumnya program apresiasi film yang diinisiasi oleh Relair Cinema (salah satu UKM di FIB Universitas Andalas) Layar Terkembang telah terlaksana secara rutin selama setengah tahun belakangan. Namun kali ini, bioskop alternatif tersebut tidak lagi “dimiliki” oleh Relair Cinema, tetapi oleh beberapa komunitas film, layar alternatif, maupun himpunan mahasiswa di beberapa universitas di kota Padang. Mereka berkolaborasi dan bergotong-royong mengadakan pemutaran di berbagai tempat, yaitu Relair Cinema, Sarimata Cinema Culture, Layar Kampus HMJ Seni Rupa Universitas Negeri Padang, Bioskop Taman Ladang Rupa, Andalas Sinematografi Unand, Klab Film, HMJ Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta, HMJ Basindo STKIP PGRI Sumatera Barat, dan HMJ  Manajemen Universitas Dharma Andalas.

17438666_605114816350635_4912786912621625344_n

Dibuka oleh film Awal (Nasib Manusia) (2016) sutradara Gilang Bayu Santoso dan Egg, Chicken and Where’s Mr. Kelly (2009) sutradara Tonny Trimarsanto pada 22 Maret 2017 di Medan Nan Balinduang FIB Unand pukul 20.00 WIB. Menyuguhkan cerita seorang Awal Uzhara kelahiran Padang, Sumatera Barat yang menjadi pelajar dimasa Soekarno dan dikirim ke Rusia bersama Sjumandjaya untuk studi film. Belakangan Sjumandjaya menjadi tokoh penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Karena peristiwa 1965, Awal yang akan kembali ke Indonesia dicap kiri dan tidak bisa hidup di Indonesia. Lain halnya dengan film Egg, Chicken and Where’s Mr. Kelly memberikan penonton narasi-narasi polemik ras di Papua.

Hari selanjutnya 23 Maret 2017 di Ruang Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumatera Barat pukul 14.00 WIB, memutar Balik Jakarta (2016) sutradara Jason Iskandar, Mata Elang (2016) sutradara Wisnu Dewa Broto, Ungku Saliah (2012) sutradara Ahmed Kamiel, dan Pelangi Di Tepian Samudra (2014) sutradara Mukhlas Syah Walad dan Fuad Ridzqi. Secara keseluruhan, film-film ini menggambarkan bagaimana sinema merespon isu-isu perkotaan. Secara parodik, Balik Jakarta melihatkan fenomena perubahan kota Jakarta, juga dengan Mata Elang melihatkan sudut padang lain tentang profesi yang terkesan negatif di Jakarta. Perihal kepercayaan lokal, Ungku Saliah meluruskan pandangan-pandangan umum di masyarakat. Pelangi di Tepian Samudra tidak kalah menarik, film disutradai siswa SMA di Aceh memberikan wacana kearifan lokal di Aceh.

Kembali ke Medan Nan Balinduang, esok harinya 24 Maret 2017 pukul 20.00 WIB. Memutar When The Sea Feels Lonely (2015) sutradara Wimar Herdanto dan Salisiah Adaik (2013) sutradara Ferdinand Almi. Kedua film ini, meskipun berbeda durasi (film pertama berdurasi 12 menit) namun sama-sama mengangkat perkara tradisi. Pertama perihal pembenturan tradisi dengan modernitas di sisi perempuan di Jawa, kedua, pertentangan dua tradisi yang berbeda tetapi sama di Minangkabau.

IMG_4471

Dilanjutkan pada tanggal 27 Maret 2017. Terdapat dua tempat pemutaran, pukul 16.00 WIB di Aula Universitas Dharma Andalas memutar Rel Air (2015) sutradara Findo Bramata dan Kubu Terakhir (2012) sutradara Benny Sumarna, lalu pada malam harinya pukul 20.00 WIB di Galeri Taman Budaya Padang memutar Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (2013) sutradara Hafiz Rancajale. Ketiga sutradara beda jaman ini berasal dari Padang, Hafiz mengangkat perjuangan seorang Misbach Yusa Biran penggagas Sinematek Indonesia, Benny mengangkat kelompok masyarakat Kubu yang hidup di tengah hutan Dhamasraya, dan Findo mengangkat benda sejarah yang jarang diketahui kesejarahannya di Painan, Sumatera Barat.

Pada 28 Maret 2017 juga diadakan di dua tempat berbeda. Di Studio PKM Unand pada pukul 15.00 WIB, memutarkan #Aku Serius (2016) sutradara BW Purba Negara, Seserahan (2013) sutradara Jason Iskandar, dan Sihung (Canine) (2016) sutradara Esa Hari Akbar. Malam harinya di Rimbun Espresso & Brew Bar pukul 20.00 WIB memutar 1000 Kilometer (2016) sutradara Ilham Nuriadi, Mesin Tanah (2016) sutradara Wimar Herdanto, dan 1880 MDPL (2016) sutradara Riyan Sigit dan Miko Saleh. Disini kita bisa menikmati bagaimana sinema mengkritik perihal media sosial atau kekinian, seperti yang dilakukan #Aku Serius, Seserahan, dan Mesin Tanah. Lain halnya Sihung, 1000 Kilometer dan 1880 MDPL mencoba membungkus realitas dengan pendekatan dokumenter kreatif, dan jauh dari karakteristik dokumenter arus utama di Indonesia.

Kemudian pada 29 Maret 2017 pemutaran juga diadakan di dua tempat. Pukul 14.00 WIB di Gedung 4 Kampus II Bung Hatta memutarkan Ngelimbang (2015) sutradara Rian Apriyansah, Sedeng Sang (2016) sutradara Moh. Reza Fahriansyah, Kamu Di Kanan Aku Senang (2013) sutradara BW Purba Negara, dan Pingitan (2013) sutradara Orizon Astonia. Pukul 20.00 WIB di Pendopo FBS UNP memutarkan Sikola Baruak (2015) sutradara Gery Arsuma, Renita, Renita (2006) sutradara Tonny Trimarsanto, dan Rel Air (2015) sutradara Findo Bramata. Mencoba mengangkat permasalahan tambang dan tanah di Indonesia, Ngelimbang dan Sedeng Sang membuat tercengang penonton melihat kenyataan yang terjadi hari ini. Sedangkan Kamu Di Kanan Aku Senang dan Pingitan, film puitik ini mencoba membuat ketabuan menjadi biasa. Dan Sikola Baruak dengan Renita, Renita melihatkan perspektif lain mengenai perlakuan terhadap binatang dan stigma tentang kehidupan transgender.

17438781_1649607495056405_5897172294215663616_n

Di malam puncak peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, berlokasi di Medan Nan Balinduang FIB Unand, pada pukul 20.00 WIB memutarkan Ir. Soemarno (2016) sutradara Nailu Alfin Rahmatullah dan Darah Dan Doa (Long March of Siliwangi) (1950) sutradara Usmar Ismail. Melalui sudut pandang perangkat negara paling bawah, kondisi perpolitikan di Indonesia diolok-olok dalam film Ir. Soemarno, berbeda dengan Darah Dan Doa menyuguhkan perjuangan masyarakat Indonesia menghadapi agresi militer Belanda.

Pesta film ini bukan hanya sekedar memutarkan film, namun lebih dari itu. Dengan adanya diskusi setelah pemutaran membuat ruang ini menjadi ruang produksi pengetahuan sinema, apalagi melihat perkembangan budaya sinema di Indonesia hari ini. Juga menjadi stimulus untuk meningkatkan jumlah produksi film di Sumatera Barat, serta mengisi kekosongan semesta sinema yang bukan hanya perkara produksi dan produksi.

Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang Minggu 9 April 2017.

Advertisements