Sinema Sumatera Barat Dalam Layar Terkembang: Film Week

Kehadiran program Layar Terkembang: Film Week dalam memperingati Hari Film Nasional tahun ini bukan hanya mengisi kekosongan semesta sinema di Padang, Sumatera Barat. Tetapi bisa memperlihatkan kecenderungan sinema di Sumatera Barat khususnya, yang terdeteksi mempunyai tendensi sendiri dibandingkan film-film dari daerah lainnya.

Dari 24 film yang diputar dalam rangkaian acara Layar Terkembang: Film Week, 22 sampai 30 Maret 2017 lalu, terdapat 5 film yang diproduksi oleh sineas Sumatera Barat dan berlatar di Sumatera Barat. Yaitu Kubu Terakhir (2012), Ungku Saliah (2012), Salisiah Adaik (2013), Rel Air (2015), dan Sikola Baruak (2015).

Masing-masing film ini memperlihatkan kecenderungan dan tendensi para sineas Sumatera Barat melihat Sumatera Barat. Pertama film yang disutradarai Benny Sumarna Kubu Terakhir yang mendapat banyak penghargaan di tingkat internasional. Menyuguhkan kondisi sebuah kelompok manusia yang telah tertelan oleh modernitas sehingga kehilangan identitas. Suku Kubu yang direkam oleh Benny yang hidup di kedalam hutan Dharmasraya ini kita ketahui dengan kondisi kehidupannya yang masih tradisional. Melalui dokumenter ini sang sutradara mencoba memberitahu, bagaimana keadaan orang-orang suku Kubu ini hidup dengan tawaran-tawaran dari “modernitas” yang membuat sengsara dan hilang identitas mereka.

Hal ini dapat kita lihat dari banyak bidikkan gambar dalam film ini yang memperlihatkan beberapa orang suku Kubu menggunakan jam tangan, telepon genggam, dan perkakas modern lainnya. Mungkin bagi kita yang hidup di perkotaan dan harus mematuhi jadwal-jadwal tertentu, sangat memerlukan perkakas tersebut. Tetapi bagi mereka yang mempunyai dan menggunakan pengetahuan alam, apakah berguna? Benny menambahkan sewaktu sesi diskusi bersama sutradara setelah pemutaran, bahwasanya mereka hanya meniru orang-orang yang datang dari perkotaan ke tempat mereka. Bahkan efeknya merasuk kebanyak lini kehidupan mereka, seperti pengobatan, penamaan anak mereka, dan lainnya. Ditutup dengan sebuah adegan seorang laki-laki menceritakan seekor burung Kuau yang lari ke kota kemudian ditodong beribu-ribu senapan, yang menjadi metafora atas kondisi suku ini.

Motif sama juga terdapat dalam Sikola Baruak sutradara Gery Arsuma yang juga mendapat banyak apresiasi di tingkat internasional. Ketika “pemberantasan sarimin” di pulau Jawa melalang buana. Dalam tataran pemanfaatan binatang untuk menyokong kehidupan, film dokumenter ini mencoba melihat sisi lain bagaimana aktifitas yang terkesan eksploitasi ini berlangsung.

Berlokasi di Pariaman, film ini merekam hidup seorang pelatih beruk dan cara melatih beruk supaya bisa memanjat pohon kelapa. Dari menit pertama hingga akhir film ini sama sekali tidak memperlihatkan eksploitasi terhadap binatang oleh si subjek. Bahkan para beruk sangat dimanja, diberi makan setiap hari, dan dimandikan. Adapun kekerasan verbal terjadi jika beruk tersebut malas. Bahkan sang pelatih memanjang foto seekor beruk di dinding rumahnya, foto seekor beruk yang sangat berarti bagi beliau. Dan kemudian film ini membuat spektator sadar akan sebuah perikebinatangan.

Sama-sama berlatar di Pariaman, Ungku Saliah sutradara Ahmed Kamiel merekam persepsi masyarakat terhadap tokoh berpengaruh, Ungku Saliah, di Pariaman dan Padang Pariaman. Berbagai macam persepsi dilihatkan dalam dokumenter ini. Ada yang sekedar saja mengetahui dan memajang foto beliau, ada yang sangat memuja beliau, dan diakhiri dengan sebuah klarifikasi atas persepsi-persepsi yang menyimpang.

Kemudian Rel Air sutradara Findo Bramata hadir sebagai alternatif dari kesejarahan Painan. Dokumenter ini merekam peninggalan Belanda yaitu saluran air sepanjang 3 Km yang menembus bukit untuk keberlangsungan PLTA Salido Ketek, Painan. Dengan menghadirkan narasi dari narasumber tentang proses pembuatan saluran air ini dari jaman belanda, jepang, lalu kembali lagi jepang, membuat penonton mengetahui bagaimana kondisi sosial, politik, ekonomi disana. Apalagi ketika kamera mengikuti laju air di dalam terowongan saluran air ini selama lebih kurang 3 menit, membuat spektator terbawa ke lorong-lorong gelap sejarah Indonesia. Maka tak heran akhirnya film ini mendapat penghargaan di nasional maupun internasional.

Berbeda dengan Salisiah Adaik sutradara Ferdinand Almi, yang mengangkat problematika adat di Minangkabau. Dalam bingkisan fiksi, film ini menyuguhkan kontradiksi adat di dua tempat berbeda di Minangkabau yang sama-sama menjadi sebuah persyaratan pernikahan, namun berbeda pola.

Sayang sekali, film ini gagal merepresentasikan karakteristik padusi (perempuan) minangkabau yang sebenarnya. Terlihat pada salah satu karakter utama, seorang gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Menurut Ferdinand Almi pada sesi diskusi setelah pemutaran lalu, bahwa cinta tidak mengenal logika. Barangkali hal ini pula yang melatar-belakangi kerancuan-kerancuan pembangunan logika cerita dalam film ini.

Diantaranya, jatuh cinta pada pandangan pertama yang kemudian membuat tokoh perempuan, Ros, bersikeras untuk menikahi laki-laki Pariaman, Ajo. Hal ini merepresentasikan absensi alua jo patuik dalam tradisi Minangkabau, dan kemudian merembes pada sistem edukasi terhadap perempuan pada jaman itu. Padahal tokoh perempuan ini dilihatkan dalam film mengajar mengaji di surau terdekat. Kemudian tokoh perempuan lainnya seperti Ibu si Ros ini yang meledak-ledak emosinya dan adik si Ibu juga begitu. Sehingga menimbulkan pertanyaan, apa yang terjadi pada tahun 1950an (latar tahun film ini) di Minangkabau yang membuat karakter perempuan Minang seperti itu? Atau hanya kegagalan sang pembuat film dalam mengintepretasi budaya Minangkabau.

Dari keseluruhan, terlihat absensi wacana tentang tradisi Minangkabau secara tersurat. Meskipun ada tetapi tidak representatif. Padahal Minangkabau dengan tradisinya memiliki berbagai macam wacana yang bisa diangkat ke dalam sinema. Bahkan hal ini adalah potensi yang bisa menjadi karakteristik sinema Minangkabau. Seperti yang dilakukan Apichatpong Weerasethakul misalnya, mengangkat fenomena mistis di Thailand ke dalam seluruh film-filmnya. Selain menggagas sinema mistisisme Thailand, ia juga menawarkan hal baru dalam kesadarannya atas sinema yang mempunyai realitasnya sendiri, yaitu “merealiskan” mistisisme tersebut.

Barangkali juga karena kurangnya akademisi perfilman di Sumatera Barat. Tetapi kita mempunyai jurusan Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Meskipun tidak bisa berharap banyak, dengan hadirnya ruang apresiasi (diluar sedikitnya bioskop di Sumatera Barat) yang berperan besar dalam semesta sinema selain perkara produksi, seperti Layar Terkembang, Layar Kampus, Sinema Pojok, Bioskop Taman di Sumatera Barat, bisa menjadi wadah dialektika dan produksi pengetahuan sinema agar makin berkembangnya sinema di Sumatera Barat dan memiliki karakteristik sinema tersendiri.

Tulisan ini pernah dimuat di Padang Ekspres, 23 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s