Mengisi perbendaharaan film-film di arus utama yang dilahirkan oleh sutradara asal Sumatera Barat (Arief Malinmudo), cukup berbahagia Surau dan Silek (2017) hadir dan mengisi mata penonton-penonton di Indonesia. Apalagi di bioskop XXI Padang sepajang satu bulan lebih, dengan sepenggal cerita kehidupan Minangkabau serta lanskap-lanskap yang ada di Sumatera Barat.

Konon, cerita film ini adalah tentang Adil (Muhammad Razi), Kurip (Khairafi), dan Dayat (Bima Jousant) yang masih berseragam merah putih. Mereka mencari guru silat setelah ditinggalkan oleh guru silat mereka; mamak si Adil, Rustam (Gilang Dirga). Karena ingin membalas dendam atas kekalahan pada turnamen silat sebelumnya, Adil bersikeras bersama yang lain mencari guru baru sampai ke nagari-nagari tetangga. Hingga mereka dipertemukan oleh si Rani (Randu Arini), teman satu sekolah mereka, dengan Pak Johar (Yusril Katil) seorang pensiunan dosen yang baru pulang dari rantau, ternyata seorang pandeka dahulunya di nagari tersebut.

Barangkali cerita yang ditawarkan film ini mampu membuat spektator mengetahui bagaimana silat di Minangkabau pada umumnya, yaitu bersandi ke agama Islam. Ini diberitahu oleh Pak Johar ketika akhirnya mau mengajarkan silat pada ketiga anak ini; “di lahia silek mancari kawan, di batin silek mancari Tuhan.” Kemudian bagaimana motivasi orang-orang Minangkabau mencari surga, ini diperlihatkan dengan pengulangan-pengulangan dialog mengenai tiga amalan yang pahalanya tidak putus yaitu, ilmu yang bermanfaat, Shodaqoh Jariyah, dan doa anak soleh dan soleha.

Tetapi segala konten mengenai silat dan agama hanya dialami oleh seorang spektator melalui dialog, dan beberapa tingkah laku pemain (Pak Johar). Sinema sebagai media berbahasa visual, yakni pesan atau ide dibawa dan disampai oleh gambar yang bergerak, terlihat absen eksplorasi tersebut di film ini. Meskipun peran visual peristiwa-peristiwa yang dialami oleh pemain utama dalam film ini mengarah pada pesan utama film, tetapi secara pengalaman emosi, penonton tidak terbawa oleh visual-visual yang mampu membawa emosi spektator ke arah tersebut, yaitu pengalaman emosi silat dan agama yang menjurus pada spiritualisme, bukan hanya ketegangan bersilat.

Visual yang kentara dan cukup ramai dalam film ini adalah visual lanskap-lanskap di beberapa wilayah Sumetera Barat. Namun, apakah visual tersebut mampu membawa spektator ke emosi cerita utama?

Adil, Kurip, dan Dayat latihan silat di Padang Mangateh Payahkumbuah, menghadirkan visual padang rumput yang luas serta banyak sapi-sapi. Lalu, mencari guru silat ke nagari-nagari tetangga, mereka melewati Jam Gadang Bukittingg, visual Jam Gadang pun sangat rancak apalagi diambil dari ketinggian, yang kita ketahui diambil oleh drone. Mulai latihan dengan Pak Johar di Ngarai Sianok Bukittinggi, pula diambil dengan shot-shot seksi sebuah pemandangan. Begitu pula dengan pengambilan gambar wilayah pariwisata yang umumnya berada di Bukittinggi.

Karena citra yang tersebar hari ini atas pengambilan gambar dengan drone dalam video profil atau iklan hanya memperlihatkan ekslusifitas sebuah karya visual. Hal ini barangkali yang diterapkan oleh pembuat film Surau dan Silek, sehingga hanya menjadi visual eksusifitas semata. Jika dibandingkan dengan kebanyakan film Hollywood pengambilan gambar dengan drone hanya sedikit, dan hanya untuk memperlihatkan lokasi sesaat.

Sehingga pengalaman yang diberikan visual-visual pariwisata dalam film ini adalah pengalaman spektator untuk merasakan indahnya alam dan objek pariwisata di Sumatera Barat, bukan pengalaman emosi spiritualisme. Jika boleh menambahkan, visual tersebut menyampaikan pesan “ayo pergi wisata ke sini!” dengan hastag visitsumbar.

Spektator dibawa ke dua arah yang berbeda ketika mengalami film Surau dan Silek. Pengalaman dan pemahaman akan spiritualisme silat di Minangkabau melalui dialog-dialog, dan pengalaman berekreasi ke objek-objek pariwisata melalui visual. Ini merupakan dua hal yang jauh berbeda dan sangat sulit untuk menemukan korelasi antar dua pengalaman ini. Bagaimana spektator mengalami spiritualisme di tempat objek pariwisata? Barangkali bisa, tetapi terlalu jauh dari cerita utama film ini.

Maka patut setuju dengan argumen Maya Lestari Gf bahwa “sebagai film keluarga, Surau dan Silek cukup berhasil memberikan tontonan segar yang penuh nilai-nilai kekeluargaan, persahabatan, dan kasih sayang.” (2017), dalam artian membuat keluarga dan sahabat menjadi ingin mengunjungi objek-objek pariwisata yang ada di Sumatera Barat.

Perlu disadari bahwa saingan sinema Indonesia di arus utama (katakanlah bioskop komersil, karena faktor akses yang lumayan mudah dibandingkan bioskop alternatif) adalah film-film Hollywood. Apa yang menjadi daya tarik dari Surau dan Silek selain konten kedaerahaannya? Pantas saja bangku studio yang menayangkan Pirates of The Carribean: Salazar’s Revenge (2017) atau Wonder Women (2017) lebih penuh dibandingkan studio yang memutar film Indonesia.

Barangkali inilah yang coba dilawan oleh film-film belakangan yang hadir dengan bahasa-bahasa sinema baru, selain konten kedaerahan. Beberapa diantaranya Siti (2014) sutradara Eddie Cahyono, dengan pemakaian jenis shot long take yang kentara dalam film pun mendukung ide dan pesan film yang mengungkapkan perjalanan dan perjuangan nan panjang bagi siti, serta mendukung narasi kekuatan sosok perempuan tangguh ini. Turah (2016) sutradara Wicaksono Wisnu Legowo, dengan visual-visual yang cenderung setara dengan tubuh subjek mendukung pesan film ini yang ingin menyadari spektator atas kondisi inilah yang terjadi didepan mata kita. Istirahatlah Kata-kata (2016) sutradara Yosep Anggie Noen, hasil bidikannya yang banyak still dan long take mendukung emosi kesunyian dan kesepian seorang Wiji Thukul. Belum Ziarah (2016) sutradara BW Purbanegara yang sedang hangat belakangan ini.

Film-film ini adalah beberapa contoh perbandingan untuk film Surau dan Silek. Mereka tidak lagi menganggap sinema sebatas hiburan, tetapi memberikan pengetahuan sinema dengan tawaran bahasa sinematiknya. Inilah contoh kesadaran akan kekuatan sebuah sinema sehingga munculah film-film yang berkualitas dikemudian harinya, dan patut bersaing dengan produksi-produksi Hollywood.

Advertisements