In The Penal Colony: Adaptasi Sastra Ke Film

Sinema sebagai media baru menjadi popular di ranah perkembangan budaya naratif. Perkembengan sinema sebagai salah satu media naratif tak lepas dari pengaruh bentuk seni lain, khususnya sastra. Hingga hari ini, begitu banyak ditemukan produksi film yang diadaptasi dari karya sastra.

Pada umumnya, orang-orang yang telah membaca karya sastra dan menonton film yang diadaptasi dari karya sastra tersebut, beranggapan kedua karya seni ini berbeda. Bahkan mereka mencemooh film adaptasi yang tidak berhasil memuaskan spektatornya seperti karya sastra yang berhasil memuaskan pembacanya.

Hal ini terjadi karena kedua bentuk seni ini mempunyai bahasa spesifik yang berbeda. Karya sastra menggunakan bahasa ‘kata’ untuk membawa dan menyampaikan ide atau pesan, sedangkan sinema menggunakan bahasa visual atau gambar untuk mengangkut dan menyampaikan ide atau pesan. Atau dalam bahasa George Bluestone, seorang pelopor studi film adaptasi; “. . .faktanya novel adalah medium linguistik, film esensinya adalah visual” (1957:1). Ini membuat sinema, khususnya sebuah adaptasi mempunyai bentuk seni tersendiri. Seperti argumen Bela Balaz; adaptasi adalah sebuah karya independen, karya sumber barangkali hanya sebatas stimulus, maka lebih kurang adaptasi bisa dikatakan sebagai karya original (1970:259).

Salah satu film adaptasi yang mudah diakses melalui youtube.com adalah In The Penal Colony yang berdurasi 40 menit, disutradarai oleh Forrest Rice pada tahun produksi 2013. Berjudul sama, In The Penal Colony adalah cerpen yang ditulis oleh Frans Kafka yang dipublis pada 1919, kemudian cerpen ini banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Salah satunya dalam bahasa Inggris diterjemahkan oleh Ian Johnston pada 2003.

In The Penal Colony Continue reading “In The Penal Colony: Adaptasi Sastra Ke Film”

Advertisements